Pages

Sabtu, 03 Desember 2011

Shalat

Shalat adalah tempat munajat dan tambang pembersihan. Di dalamnya terbentang hamparan rahasia dan kilauan cahaya. Bila kita ingin mengenali diri kita, itu bisa dilakukan lewat shalat. Ukurlah ia dengan timbangannya. Kalau tidak mengarah pada hal-hal yang bersifat duniawi berarti engkau bahagia. Namun, jika yang terjadi sebaliknya, maka tangisilah dirimu. Jika kakimu masih sulit untuk dilangkahkan menuju shalat, berarti engkau belum mengetahui rahasia shalat. Peranahkah engkau saksikan ada seseorang yang tidak ingin berjumpa dengan kekasihnya? Allah berfirman,
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain) Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Al-Ankabut : 45). Oleh karena itu, shalat yang tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar tidak disebut shalat dan tidak bernilai di sisi Allah.


Engkau baru saja menunaikan shalat dan bermunajat kepada Allah dengan berkata, "Hanya kepada-Mu kami meminta". Lalu engkau juga memberi salam kepada Nabi SAW. dengan mengucapkan "Salam sejahtera, rahmat, dan keberkahan semoga tercurah kepadamu wahai Nabi." Semua itu kita lakukan dalam shalat. Tetapi sayang sekali kita kemudian kembali kepada dosa setelah Allah SWT memberi kita nikmat ibadah.

Siapa yang ingin mengetahui jati dirinya yang sebenarnya di sisi Allah, hendaknya mencermati shalat yang dilakukan. Apakah ia melakukan shalat tersebut dengan khusyuk dan tenang, atau dengan lalai dan tergesa-gesa, jika demikian itu kita lakukan, kita pantas menyesali diri. Orang yang duduk dengan pemilik minyak wangi, ia juga akan mendapat aroma wanginya. Dalam shalat sebenernya kita sedang duduk bersama Allah, bila kita duduk bersama-Nya, tetapi tidak menunjukkan ada penyakit dalam kalbu kita. Bisa berupa sifat sombong atau tidak mengenal etika. Allah berfirman,
"Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasan-Ku."(Al-Araaf : 146)

Tidak semestinya orang yang shalat tergesa-gesa untuk keluar mesjid, namun selepas shalat tersebut hendaknya ia berdzikir seraya beristighfar atas segala kekurangannya. Barangkali shalatnya tidak layak diterima, namun setelah istighfar akhirnya diterima juga.

Rasulullah selalu berdo'a : "Ya Allah, Engkaulah pemberi Keselamatan, dan dari-Mu keselamatan berasal. Maha Suci Engkau wahai Zat Yang Agung dan Mulia."(H.R. Muslim).

Orang yang menunaikan shalat dengan kalbu yang tidak tuma'ninah dan khusuk, serta tidak dengan perenungan, seperti mengerjakan pekerjaan yang sangat berat dan hasilnya sangatlah sia-sia. Wahai manusia, untuk tubuhmu kau pilih makanan yang enak-enak, bahkan untuk binatang tungganganmu kau beri makanan yang baik. Lalu mengapa engkau perlakukan Allah dengan buruk dan kasar? Berbagai bisikan bertengger di benakmu dan beragam pikiran buruk melintas ketika shalat. Kemudian kau sudahi shalat dengan cepat tanpa ingat lagi, apakah kau sudah shalat dan sudah berapa rakaat. Orang yang demikian seperti orang yang menempatkan dirinya sebagai sasaran tembak dan tikaman tombak yang sudah mengarah padanya dari seluruh penjuru. Bukankah dia bodoh? Jika kita ingin mengetahui bagaimanan nanti akan melintasi al-shirath pada hari kiamat, perhatikan kondisimu ketika pergi ke mesjid untuk shalat. Imbalan bagi orang yang pergi ke mesjid sebelum azan ia akan bisa melintasi shirath seperti kilat, orang datang diawal waktu ia akan melintasi shirath kuda cepat tangkas, sementara orang yang datang selalu terlambat karena malas, ia akan melintas pelan diatas shirath dengan api yang membakar.
Wallahualam

Sumber : Buletin Al-Falah edisi ke-323/XII/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...