Pages

Kamis, 01 Desember 2011

Cinta dan Rindu Tanpa Akhir

Bulletin Jum'at
"Hai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Maidah : 54).

Allah mencintai mereka; ini sungguh menakjubkan. Sebab, Allah yang tidak membutuhkan apa-apa dari mereka-malah mereka yang sangat membutuhkan-Nya, bahkan tidak bisa terlepas diri dari-Nya barang sekejappun-tidak bisa terlepas diri dari-Nya, barang sekejappun-tidak bergantung kepada mereka, malah mereka yang bergantung kepada-Nya, dan tidak meminta apapun dari mereka, tapi mereka segala sesuatu kepada-Nya, dan menyatakan mencintai mereka.



Cinta adalah air kehidupan, makanan roh, dan nutrisi jiwa. Makhluk mengeloni anaknya karena cinta. Ibu menyusukan bayi diteteknya karena cinta. Burung membangun sarangnya dengan cinta. Karena cinta wajah-wajah berbinar, bibir-bibir tersenyum, mata bercahaya. Karena cinta terjadi pelukan, rangkulan, kemesraan, kasih sayang dan kelembutan.

Cinta adalah hakim di pengadilah dunia, yang keputusannya memihak para kekasih walaupun mereka kejam, yang vonisnya dalam berbagai kasus memihak para pecinta walaupun mereka lalim.

Para sahabat mencintai jalan hidup Islam dan pengajar risalah dan pelakunya, wahyu dan pengabarnya, lalu demi ridha Allah, mereka terbunuh di ujung tombak di Badar, Uhud, Hunain. Mereka meninggalkan keluarga, harta kesenangan dunia dalam mengejar keridhaan Sang Kekasih, Allah Yang Maha Kuasa. Karena al-Khalil Ibrahim as mencintai Allah, api terasa dingin dan nyaman olehnya.

Karena Nabi Musa as mencintai Allah, laut terbelah di hadapannya. Dan karena penutup para Nabi, Muhammad SAW, mencintai Allah, batang pohon korma rindu kepadanya dan bulan terbelah untuknya (Shahih al Bukhari).

Bagi seorang pecinta, derita sama dengan nikmat, ingin memandang sama dengan dipandang, itu semua semata-mata karena cinta.

Aku mencintaimu, jangan kau tanya mengapa
Aku mencintaimu, itu adalah iman dan agama

Karena cinta, orang yang terlelap menyibakkan selimutnya yang hangat dan bangkit dari kasurnya yang empuk untuk bertahajjud. Dan diteruskan untuk Shalat Shubuth. Karena cinta, seorang prajurit maju berperang tanpa terpengaruh keenakan dunia yang fana itu. Karena cinta, mata meneteskan air mata, hati merasa sedih, dan bibir hanya mengucapkan perkataan yang membuat Tuhan ridha. Cinta seperti aliran listrik yang dihantarkan kabel hingga muncul cahaya, yang dihantarkan tubuh sehingga muncul kehangatan, dan menyentuh benda-benda hingga muncul percikan. Ketika cinta sirna, terjadilah perpisahan dan pemutusan hubungan didunia, suudzan dan keraguan jiwa, cemberut dan rengut di wajah.

Ketika cinta pudar, murid tak memahami lagi penjelasan Sang Guru yang menerangkan pelajaran dengan bahasa yang jelas, isteri tidak tuntuk lagi sama suaminya, meskipun cuma minta segelas air, ayah tidak lagi mengasihi anaknya walaupun sedang dalam bahaya bagai di mulut singat. Ketika cinta putus, kumbang meninggalkan taman, merpati meninggalkan dahan. Jika cinta tiada, perang pecah, pertempuran meletus, benteng-benteng dihancurkan, jiwa dan harta diluluhlantakkan, bukti yang nyata menjadi tertawaan karena dibicarakan sebagai dongeng, lawakan yang tidak lucu, pengacara, jaksa, hakim, menjadi lucu karena mereka-mereka kadang duduk dikursi pesakitan sambil diperlihatkan mereka nyenyak tidur diwaktu pembacaan vonis suatu perkara. Persoalan tidur, bukan ceritera baru terhadap kita orang kecil, sudah rutin menjadi tontonan membosankan memuakkan. Ini semua dilakukan orang-orang yang tidak cinta terhadap tugasnya, tanah airnya dan negaranya. Tiada hidup tanpa cinta, dan tiada yang abadi tanpa cinta. Jika sedang mencintai, Anda menghirup aroma bunga, mengelus kelembutan sutra, mengecap manisnya madu, merasakan nikmatnya sehat, meraih ilmu yang berguna, menyingkap segala sesuatu.

Sedangkan jika Anda sedang membenci, semua kata-kata orang terasa melukai, semua tindakannya salah, semua gerakannya mencurigakan, dan semua kebaikannya jelek. Orang sedang mencintai, jika sedang pergi terasa ada, jika sedang marah terasa sedang bercanda, dan kesalahannnya terasa baik dan kekeliruannya terasa benar.

Arti suatu persahabatan, yang dilandasi kasing sanga, cinta kepada Allah SWT
Perbuatan itu kulihat jelek saat dikerjakan orang selainmu
Namun jika terlihat baik saat dikerjakan olehmu, kekasihku

Tak seperti cinta dan kerinduan kepada Kekasih yang lain, Kerinduan pecinta Allah, terjadi tanpa henti. Setiap hari dia merasakan kadar kedekatan kepada Allah yang makin bertambah. Kangen sama Allah menjadi Tanpa Akhir sampai bersua dengan-Nya.

Imam al-Ghazali, Sang Hujjat al-Islam : Mengupas hakikat cinta, sebab-sebab dan tanda-tandanya, cara mencintai dan dicintai Allah, lezatnya kerinduan ruhani, indahnya keintiman spritual, serta bagaimana emosi yang sangat luar biasa, dan dapat mengubah arah kehidupan seseorang menuju kebahagiaan abadi.

Wallahualam Bishawab

Sumber : Buletin Al-Falah Edisi ke-332/XI/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...