![]() |
| Hijra (Ilustrasi) |
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS 2 : 218)
Satu Muharram
Tanggal satu Muharram merupakan awal perhitungan kalender tahun baru Islam, yang dinamakan dengan kalender tahun hijriyah. Karena dikaitkan dengan peristiwa hijrahnya nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke kota Madinah. Pertanyaannya, kenapa awal kalender Islam dikaitkan dengan peristiwa hijrah nabi Muhammad SAW ke Medinah? Kenapa tidak dikaitkan dengan peristiwa kelahiran beliau yang notabene, nabi besar dan nabi penutup akhir zaman. Seperti misalnya kalender masehi yang penamaannya mengacu pada tanggal kelahiran nabi Isa AS.
Pertanyaan seperti itu pernah disampaikan kepada Umar Ibnur Khattab sebagai Khalifah kedua dalam sejarah Islam. Tapi Khalifah Umar Ibnur Khattab menolak usul yang bersifat kultus individu apalagi kultus kepada Rasulullah, nabi Muhammad SAW. Bagi Umar Ibnul Khattab, benang merah ajaran Islam terletak pada tauhidillah, yakni prinsip mentauhidkan Allah SWT dengan aqidah yang bersih dalam seluruh bidang kehidupan : ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan. Karena aqidah Islam telah mengharamkan keyakinan bercampur khurafat dan budaya kemusyrikan, termasuk mengkultuskan Rasulullah SAW. Sebagaimana firman Allah SWT :
Katakanlah : "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu : janganlah kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu sedikitpun, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar". Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahaminya. (QS. 6 : 151)
Budaya kemusyrikan dan kultus tokoh, baik tokoh artis-selebritis, tokoh partai, ormas maupun tokoh beragama sekalipun akan mendorong rusaknya etos kerja dan lunturnya semangat perjuangan. Hal itulah yang ingin dihilangkan oleh Umar dengan memilih peristiwa hijrah rasul ke Madinah sebagai nama kalender islam yakni kalender Hijriah. Peristiwa hijrah itu sarat dengan nilai-nilai perjuangan, memompa etos kerja, menggerakkan terus menerus budaya perubahan dan mengubah perilaku korup menjadi budaya transparan penuh tanggung jawab. Itulah makna terpenting peristiwa hijrah bagi seorang muslim terletak pada sikap tauhidillah yang hanya tuntuk kepada Allah SWT. Tidak tunduk kepada alam, kepada situasi dan kepada kekuatan apapun.
Ketika seorang muslim memasuki tahun baru Islam ia ingin mengamalkan nilai-nilai tauhid itu. Yakni menjadi seorang muhajir yang selalu bergerak mendambakan perubahan. Pribadi muhajir tidak mengenal bersikap pasif, berdiri menunggu bola dioper, mengkritik, dan menyalahkan orang lain, tapi pribadi muhajir mampu melakukan amal-amal positif, amal soleh baik untuk dirinya, keluarganya, maupun untuk masyarakat dan bangsanya. Al-Qur'an menyebut orang yang tidak mau berubah dan berhijrah, hanya berpangku tangan dalam kehidupan dan bersikap pasif sebagai orang yang zalim kepada diri sendiri. Itulah makna Allah SWT Surat An-Nisaa ayat 97.
Peristiwa hijrah dipandang sebagai titik balik perjuangan Rasulullah SAW dalam menegakkan kebenaran dan risalah dakwah. Hal ini bisa dilihat dari fakta perubahan yang beliau gariskan bahwa nama kota YATSRIB diubah namanya oleh beliau menjadi MADINATUL MUNAWWAROH, yang berarti kota yang memancarkan nilai-nilai budaya peradaban, nilai-nilai Al-Islam, cahaya hukum Allah, cahaya Iman, cahaya kebenaran. Sebuah kota yang diperintah bukan oleh orang-orang (person), tapi sebuah negeri yang dipimpin oleh Rasullah SAW berlandaskan wahyu suci, hukum suci penuh ketauladanan (uswatun hasanah). Dari sinilah lahir prinsip negara hukum (rule of divine law) atau rule of law.
Dalam negara Madinah, seseorang pada hakikatnya tidak tunduk kepada orang perorangan, tapi ketundukan dan ketaatan hanya diberikan kepda sistem hukum. dalam hal ini sistem Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya. Nabi Muhammad adalah Rasulullah yang telah menterjemahkan Wahyu Allah SWT (Al-Qur'an) ke dalam dirinya sehingga beliau menjadi CONTOH YANG BAIK atau Uswatun Hasanah. Oleh karena beliau adalah uswatun hasanah, maka beliau menjadi pemimpin yang diikuti. Beliau tidak hanya sekedar memberi contoh tapi beliau adalah contoh itu sendiri. Itulah negara Madinah yang memancarkan cahaya peradaban, cahaya akhlak dan cahaya ilmu pengetahuan dan cahaya iman.
Dalam semangat hijrah terkandung makna perjuangan bersama untuk menciptakan masyarakat yang baik. Untuk membangun masyrakat yang baik haruslah dimulai dari tingkat individu atau orang perorangan. Karena individu dalam sebuah masyarakat, ibarat sebuah bata dalam sebuah bangunan yang besar. Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat yang beradab, beliau memulainya dengan pembinaan iman dan dakwah yang bersifat individual. Seorang muslim yang berkualitas, menguasai ilmu pengetahuan, memiliki aqidah yang kuat akan membentuk masyarakat muslim yang kuat, mandiri dan berakhlaqul karimah. Faktor penentu terbentuknya sejarah baru kehidupan umat muslim adalah NIATNYA yang tulus karena Allah. Karena IMAN yang kokoh dan kuat senantiasa memproses manusia untuk lebih menjadi manusia.
Rasulullah SAW bersabda : "Setiap pekerjaan nilainya tergantung niatnya. Barangsiapa yang berhijrah didorong oleh niat kerena Allah, hijrah akan diniali sesuai niatnya. Dan barangsiapa yang berhijrah didorong oleh keinginan mendapat keuntungan duniawi atau kerena ingin mengawini seorang perempuan, maka hijrahnya dinilai sesuai dengan tujuannya".
Rahasia Hijrah
Hijrah itu sunnatullah karena itu sebuah keniscayaan. Allah membangun sistem di jagat raya ini berdasarkan gerak perubahan yang tak pernah berhenti. Planet-planet bergerak, berjalan pada porosnya setiap detik. Allah berfirman : "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (QS. 36 : 38). Karena menurut sunatullah, air yang tergenang, tidak mengalir akan busuk, sedangkan air yang mengalir, bergerak akan bening dan jernih. Seandainya matahari berhenti terbit di ufuk timur, niscaya selesailah kehidupan ini. Karena hakikat kehidupan ini adalah bergerak dan berubah terus menerus.
Hukum hijrah juga terlihat pada tumbuh-tumbuhan sebagai sunnatullah. Pohon pisang hanya sekali berbuah, setelah itu ditebang dan ditumbangkan supaya dapat menjadi pupuk bagi anak-anaknya. Anak pisang tumbuh dengan suburnya, lalu kemudian mengeluarkan jantungnya untuk bakal jadi buah. Buah pisang dimakan oleh manusia dan burung-burung, yang sebenarnya menginginkan pertumbuhan generasi pisang yang lain. Itulah kehidupan yang selalu berubah, berpindah, dan berkembang. Perubahan yang positif (taghyir) tidka akan terjadi, jika tidak dimulai dari diri sendiri (QS. 13 : 11).
Benarlah bahwa hijrah itu sebuah keniscayaan. Tidak sama orang yang duduk dengan orang yang berdiri. Dan tidak sama orang yang berdiri dengan orang yang berjalan. Dan tidak sama orang yang berjalan dengan orang yang berlari. Karena dalam diam tersimpan segala macam keburukan. Mobil yang didiamkan berhari-hari akan berkarat dan hancur. orang yang banyak duduk dan duduk terus menerus akan menjadi santapan penyakit. Itulah rahasia mengapa harus berolah raga. Dalam Islam, orang yang tidak bekerja (tidak beramal) termasuk golongan orang yang merugi. Sebagaimana kata Syaikh Muhammad Al Ghazali : Bahwa orang-orang yang nganggur adalah manusia yang mati. Ibarat pepohonan yang tanpa buah, para penganggur adalah manusia benalu yang menghabiskan keberkahan.
Dalam rahasia hijrah, perubahan itu harus dimulai dari sendiri. Setiap mukmin harus selalu lebih baik kualitas diri dan imannya dari hari kemarin. Karenanya dalam Al-Qur'an (QS. 67 : 2) Allah mengatakan bahwa Aku ciptakan hidup dan mati, tujuannya hanya satu yakni siapa di antara kamu yang paling baik amalnya (ahsanu 'amala). Maksudnya bahwa tidak pantas seorang mukmin masuk di lubang kesalahan yang sama sampai dua kali. Itulah sebabnya mengapa sepertiga Al-Qur'an menggambarkan peristiwa sejarah. Hal itu bertujuan untuk menekankan betapa pentingnya belajar dari sejarah dalam membangun ketaqwaan. itulah sebabnya kenapa dalam QS. 59 : 18, perintah belajar dari sejarah itu diapit oleh dua perintah bertaqwa (QS. 59 : 18).
Setelah hijrah itu melakukan perubahan terhadap diri sendiri, seorang mukmin juga harus punya komitmen untuk mengubah keluarga dan lingkungan sosialnya. Seorang mukmin tidak hanya tekun menjalankan salat lima waktu, tapi juga harus menjadi pribadi yang santun, dan peduli kepada sesama dengan menunaikan zakat. Seorang mukmin tidak pantas berbuat dzalim, mengabil penghasilan secara tidak halal dan hidup bersenang-bersenang di atas penderitaan orang lain. Seorang mukmin harus segera hijrah dari situasi sosial semacam ini. Seorang mukmin harus segera mengubah masyarakat dengan budaya takaful-saling menanggung. Itulah rahasia disyari'atkannya berzakat. Karena mukmin sadar bahwa di dalam harta yang dia miliki ada hak orang lain yang harus dikeluarkan. (QS. 70 : 24-25).
Dan ini telah terbukti dalam sejarah bahwa membangun budaya takaful dan menyelesaikan banyak penyakit sosial yang akhir-akhir ini sangat mencekam. Apalagi di kota Jakarta yang metropolitan, kesenjangan antara si kaya dan si miskin terlalu lebar yang berujung pada tingginya angka kriminalitas di akhir tahun 2011. Para pejabat-pejabat negara kita dan anggota dewan yang kerap kali bergaya parlente. Mereka memberhalakan hawa nafsu dan diperkuda oleh syahwat politik kekuasaan dengan moralitas rendah sehingga mengakibatkan berakarnya budaya korupsi. Sebagaiman yang disampaikan oleh Ketua KPK Busyor Muqoddas :
"Yang jelas mereka (pejabat Negara) sangat parlente, mobil dinal Crown Royal Saloon yang jauh lebih mewah dari mobil perdana menteri negeri tetangga. Mereka lebih mencerminkan politisi yang pragmatis-hedonis." (Pidato kebudayaan di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Kamis 10 Nopember 2011 di Taman Ismail Marzuki Jakarta).
Terlalu tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di tengah negeri yang kaya sumber daya alam, sungguh suatu pemandangan yang naif. Namun ini tentu ada sebabnya, di antaranya yang paling pokok adalah karena kedzaliman dan ketidakjujuran menjadi budaya bangsa. Disini perlunya komitmen penegakkan hukum oleh aparat penegak hukum dan sanksi hukum yang membuat jera pelaku korupsi untuk tidak lagi mengulangi perilaku korupsi. Sebab perilaku korupsi inilah sumber segala penyakit sosial lainnya.
Dari perubahan lingkungan sosial, hijrah juga mengandung rahasia amar-makruf dan nahi-munkar. Seorang mukmin tidak boleh hanya mengaku sebagai seorang mukmin baik untuk dirinya sendiri, melainkan harus dibuktikan dengan mengajak orang lain kepada kebaikan (amar makruf). Ingat bahwa syetan siang dan malam selalu bekerja keras mengajak orang lain ke neraka. Syetan berkomitmen untuk tidak masuk neraka sendirian. Oleh karena itu, seorang mukmin selalu aktif berdakwah melakukan amar makruf dan nahi-munkar. Ia harus hijrah dari sikap pasif kepada sikap produktif. Produktif dalam arti bekerja keras mengajak orang lain ke jalan Allah. Sebab tidak pantas seorang mukmin bersikap pasif. Karena pasifnya seorang mukmin bukan saja menggoyahkan sendi-sendi iman kemasyarakatan dan menyuburkan kemaksiatan, melainkan juga membawa bencana bagi kemanusiaan.
Trilogi Hijrah
Dalam QS. 2 : 218, yang menjadi pembuka tulisan ini, ada tiga (trilogi) hijrah; Pertama, Iman kepada Allah dan Rasul-Nya, kedua, hijrah itu sendiri dan ketiga, jihad fi sabilillah. Dalam ayat ini jelas, bahwa hijrah atau perubahan yang dirahmati Allah itu tidak akan sukses kalau tidak didasari oleh iman (aqidah yang bersih) kepada Allah dan Rasul-Nya dan dengan cara jihad fisabilillah. Karena iman adalah cahaya akal. Pemikiran manusia yang lahir dari akal yang tidak percaya kepada agama, maka akalnya berada dalam kegelapan. Akal yang berada dalam kegelapan dapat dikatakan sebagai tidak mampu berfikir sehat. Karena tidak mampu berfikir sehat maka manusia memiliki sikap ragu-ragu dan bahkan tidak percaya kepada dirinya sendiri. Manusia seperti ini obatnya hanya satu, yakni diberi pelajaran agama dan dikuatkan imannya. Manusia yang tidak beriman akan jatuh kedalam jurang kebinasaan, kebodohan, kecurangan, penipuan dan saling bermusuhan.
Itulah sebabnya dalam ayat-ayat hijrah, kalu ingin berubah, ingin hijrah harus berangkat dari iman kepada Allah SWT. Iman kepada Allah SWT, iman kepada agama adalah dasar atau basic yang memberangkatkan seseorang dari kerugian kepada keberuntungan, dari keterbelakangan kepada kemajuan, dari kebodohan kepada keberpengetahuan. Pendek kata, iman kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dasar utama bagi seseorang yang ingin mengubah dirinya kepada yang lebih baik.
Iman dari segi bahasa mengandung makana "sesuatu yang dapat memberikan ketenteraman". Kata dasar "IMAN" dari tiga huruf yakni alim, mim, nuun tau aman. Iman merupakan pembenaran ruhani atau batin manusia kepada segala sesuatu yang diserap oleh pancaindera (apa yang didengar, dilihat, dan dirasa oleh paca indera) sehingga melahirkan ketenteraman batin.
Sebuah amal perbuatan dapat dikatakan sebagai sebuah amal soleh apabila perbuatan dan tindakan tersebut didasari oleh iman dan ketulusan hati dalam mengerjakannya. Jika sebuah amal perbutan yang dilakukan dalam raung yang hampa iman kepada Allah SWT, ia akan menjadi amal perbuatan yang sia-sia, tidak bernilai soleh. Dalam bahasa Al-Qur'an disebut sebagai amal perbuatan "habaan mantsuura" debu yang beterbangan. Allah SWT berfirman :
Kami kedepankan amal-amal baik (orang-orang yang tidak beriman), lalu Kami menjadikan amal-amal mereka itu sia-sia bagaikan debu yang beterbangan (QS. 25 : 23).
Itulah sebabnya dalam kaitan dengan peristiwa hijrah, iman kepada Allah dan Rasul merupakan semangatnya. Iman adalah rohnya sebuah tindakan yang memicu adanya perubahan baik dalam diri orang per orangan maupun perubahan dalam masyarakat atau bangsa. Sedangkan jihad adalah cara untuk berhirah. Jihad adalah media untuk melakukan perubahan dari yang batil kepada yang hak, hijrah dari keterbelakangan kepada kemajuan, hijrah dari kemaksiatan kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kekuatan Jihad
Dalam kehidupan ini, Allah SWT telah menyandingkan kebaikan dan keburukan. Pada suatu sisi kehidupan ada yang nama pengaruh Malaikat, maka pada sisi yang lain pasti ada yang namanya pengaruh Iblis dan Syetan. Kekuatan positif (malaikat) dan negatif (Iblis) ini berbanding fifty-fifty (50-50). Malaikat terdiri dari 7 huruf dan Syaitan sebanyak 7 huruf. Demikin pula jiwa manusia (QS. 91 : 7-10).
Tarik tambang antara kekuatan baik dan buruk, antara kebenaran dan kebatilan juga terjadi pada tingkat masyarakat atau Negara. Sebab dalam masyakakat atau Negara tarik menarik dua kekuatan yang saling bertentangan ini akan lebih sangat terasa dan bahkan sangat kentara. Keburukan mendorong kepada kesewenang-wenangan sedangkan kebajikan mengajak kepada keharmonisan. Saat terjadi kesewenang-wenangan, kekuatan dakwah ilal-haq berseru dan berjuang untuk mencegahnya. Lalu kemudian kita mengenal apa yang dinamakan perjuangan menegakkan keadilan, perjuangan membela wong cilik, perjuangan memberantas korupsi. Dalam bahasa Al-Qur'an semua perjuangan untuk menstabilkan jiwa kebenaran, mendorong perbuatan taqwa, melawan kebatilan, melawan ketidakadilan, meninggikan agama Allah SWT dan harmonisasi semua kepentingan untuk mencapai jiwa yang bersih, manusia yang bersih dan masyarakat yang akhlaqul karimah disebut dengan "jihad fisabilillah".
Agama Islam datang membawa nilai-nilai kebaikan dan mengajak manusia untuk menghiasi dirinya dengan perbuatan amal sholeh serta berjuang dengan segenap tenaga dan jiwa untuk mengalahkan kebatilan pada tingkat diri pribadim keluarga, masyarakat dan bahkan tingkat bangsa dan negara. Untuk melakukan proses perubahan yang begitu dahsyat (hijrah dalam segala bentuknya) itu, tidak ada kata lain yang digunakan oleh Al-Qur'an kecuali perjuangan yang tiada henti "jihad fisabilillah" (Al-jihaad maadhin ila yaum al-qiyaamah).
Dalam Al-Qur'an ditemukan juga bentuk perjuangan (jihad) yang harus menjadi program kaum muslimin sepanjang hayatnya. Pertama, jihad menghadapi musuh nyata. Nyata-nyata berhadapan dengan kaum muslimin, mengganggu dan memerangi kepentingan umat Islam dimana saja mereka berada. Musuk itu adalah orang-orang kafir dan orang-orang munafik (QS. 9 : 73).
Kedua, jihad menghadapi Syaitan. Sumber segala kejahatan menurut Al-Qur'an adalah makhluk yang bernama Syaitan. Dan Syaitan yang paoing jahat bernama Iblis. Syaitan dan Iblis akan berjuang menggelincirkan manusia dari kebenaran dan kebaikan dan mengajak manusia untuk menipu, dan menggoda manusia untuk maksiat kepada Allah SWT. Karena ciri utama perilaku Syaitan memusuhi nabi dan rasul, para ulama, penegak keadilan dan kebenaran. Sebenarnya kita dapat mengenali Syaitan dengan melihat pola pikirnya yang ingkar kepada perintah Allah, suka dengan kemusyirikan dan enjoy dengan maksiat. Mari menurut Al-Qur'an Syaitan itu bisa berwujud sperti Jin dan Manusia (QS. 6 : 112).
Jihad melawan Syaitan dan Iblis harus ditanamkan dalam hati sejak dini. Jangan pernah kompromi dengan Syaitan dan antek-anteknya. Jadikanlan Syaitan musuh abadi sepanjang hayat. (QS. 2 : 168).
Ketiga, jihad melawan nafsu. Rasulullah SAW mengingatkan kaum muslimin bahwa jihad yang paling dahsyat adalah jihad melawan hawa nafsu. Karena jihad melawan hawa nafsu pada hakikatnya menaklukkan musuh yang ada dalam diri kita sendiri. Oleh karena itu hawa nafsu tidak boleh diperkuda, diperturutkan tapi harus dilatih, dididik dengan perintah-perintah agama; disiplin menegakkan salah maktubah dan dilatih berpuasa mengendalikan nafsu sex, nafsu makan dan minum dan nafsu amarah. Allah SWT berfirman :
Dan siapa lagi yang paling sesaat (hidupnya) daripada orang yang mengikuti kehendak hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah SWT (QS. 28 : 50).
Jadi untuk melakukan hijrah secara total, ingin melakukan perubahan yang berdampak terhdap hakikat kemanusiaan, caranya tidak lain hanya dengan berjihad melawan keinginan hawa nafsu, melawan segala bentuk godaan syaitan dan iblis, dan berjuang menepis rongrongngan kaum munafik dan orang-orang kafir.
Wallahualam bishawab
sumber : Buletin Jum'at Masjid Agung Al-Azhar

FILSAFAT HIJRAH
BalasHapusOrang berilmu dan beradap tidak akan diam di kampung halaman
tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
merantaulah, kau akan dapatkan penganti dari kerabat dan kawan
berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rosak kerana diam bertahan
jika mengalir menjadi jernih,
jika tidak, akan keruh menggenang
Singa jika tidak tinggalkan sarang,
tidak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur,
tidak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa,
sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tidak ubahnya seperti kayu biasa
jika tetap di dalam hutan
Imam Syafii