Nabi Musa menyaksikan seorang fakir, yang karena
kefakirannya tidur di atas tanah padang pasir tanpa baju. Setelah beliau
mendekatinya, si fakir berkata, “Wahai Musa, mohonlah kepada Allah agar member
saya sedikit rejeki yang dapat membebaskan saya dari kemiskinan ini”.
Karena prihatin melihat kondisi si fakir, Nabi Musa lalu
memohon kepada Allah agar dikaruniakan kepadanya rejeki yang diperlukannya,
lalu beliau segera melanjutkan perjalannya ke gunung untuk bermunajat kepada
Allah SWT.
Hari berikutnya, Nabi Musa pulang melalui jalan yang sama
dan melihat si fakir yang telah dia doakan dalam keadaan terikat, babak belur dan
dikelilingi oleh sekelompok orang.
Nabi Musa AS bertanya, “Apa yang telah terjadi?” Mereka
menjawab, “Baru saja dia mendapatkan uang, lalu digunakannya untuk minum arak
sampai mabuk dan melakukan penyerangan hingga membunuh seseorang. Dan sekarang
mereka menangkapnya untuk melaksanakan hokum qishash dan menggantungnya”.
Rejeki merupakan salah satu nikmat Allah, sekaligus amanat
yang cukup berat dari Allah SWT. Ada dua sikap ekstrem yang mengiringi manusia
ketika memperoleh rejeki dari Allah SWT. Ada yang ketika menerima karunia
rejeki mereka bersyukur, mengagungkan pemberian dan memikirkan untuk berbagi.
Pada sebagian besar yang ketika mendapatkan limpahan rejeki mereka lupa
daratan. Melupakan Allah SWT sebagai pemberi dan berbuat semau egonya untuk
menghamburkan rejeki.
Acapkali, ketika seseorang mendapatkan rejeki, mereka lupa
diri, terkunci hatinya untuk bersyukur atas anugerah Allah tersebut. Allah SWT
memperingatkan bahaya bagi orang yang tidak memanfaatkan rejeki sesuai
syariat-Nya, “Dan jikalau Allah melapangkan rejeki kepada hamba-hamba-Nya,
tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi”.
Sungguh rejeki itu merupakan tanda kasih dan kemurahan Allah
SWT. Betapa Allah SWT memberikan kepada setiap makhluk-Nya curahan rejeki.
Firman Allah SWT. “Dan tidak ada satu binatang melatapun di bumi melainkan
Allah-lah yang memberikan rejekinya. (QS. Hud : 6)”.
Rasulullah SAW bersabda “ Rejeki itu mengejar seorang hamba
dengan cepat, melebihi kematiannya”.
Tidak ada binatang melata di muka bumi ini yang Allah tidak
menentukan rejekinya, dan tidak ada jiwa yang mati melainkan dia telah memakan
makanan terakhir yang ditakdirkan atasnya. Manusia dalam memenuhi seluruh kebutuhan
hidupnya, harus berusaha mencari rejeki dengan cara halal. Jika dia telah
berusaha tetapi masih mendapat kekurangan, jangan sampai ada pikiran untuk
mencarinya dengan cara yang haram. Sebaik-baik cara menghadapi kekurangan ini
adalah bersabar dan tetap bersyukur kepada-Nya.
Setiap manusia memiliki cara khusus dalam mencari rejeki; sebagian
menjadi pedagang/berbisnis, sebagian menjadi kuli angkut barang, sebagian
menjadi pegawai. Jika seseorang tidak merasa puas dan cukup dengan pembagian
ini, maka dia akan dihinggapi oleh sifat hina tamak dan serakah. Dan demi
memuaskan keserakannya itu dia akan melakukan berbagai perbuatan haram demi
mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan tidak ada cara lain untuk menghindarkan
diri dari perbuatan terjela ini, melainkan dengan bertawakal dan menyerahkan
diri kepada Allah SWT.
Sebaik-baik cara mencari rejeki Allah SWT adalah melakukan
ikhtiar dengan segenap daya dan upaya di jalan yang halal dan diridhoi Allah.
Mengiringi setiap upaya kita dengan untaian doa dan amal sholeh. Secara
konsisten dengan penuh keikhlasan mencari jalan menggapai rejeki halal, dan
selalu bersyukur di kala dikaruniai rejeki dan terus bersabar jika Allah belum
member karunia rejeki bagi kita. Sesungguhnya Allah SWT tidak pernah mendzalimi
hamba-Nya.
Tahap selanjutkan untuk mendapatkan keberkahan rejeki
adalah, sucikan rejeki kita dengan berbagi baik dalam bentuk zakat, sedekah,
hibah dan wakaf untuk dhuafa dalam basis keikhlasan. Dalam pemberian tersebut
upayakan mengagungkan adab-adab member. Salah satunya adalah dalam member
hendaknya dilakukan dengan penuh kerendahan dan pengabdian karena sejatinya
ketika kita berbagi, kita sedang menyambut ‘uluran tangan tuhan’.
Kemudian ketika kita memiliki niat member maka bersegeralah
untuk mereleasasikan niat kita. Karena ketika kita menunda untuk member maka
biasanya akan menjadi budaya untuk menunda dan akhirnya tidak jadi memberi.
Kemudian setelah member kita berupaya belajar mengikhlaskan.
Biasanya setelah member pun terkadang kita merasa ada yang hilang. Itu
manusiawi, tetapi sekuat mungkin kita belajar terus mengikhlaskan. Jika secara
terus menerus kita belajar mengikhlaskan maka pada suatu titik kita akan
terbiasa untuk member dan bahkan reflek untuk member kepada orang-orang yang
membutuhkan.
Semoga Allah senantiasa menjadikan kita bersyukur dan
berbagi atas rejeki yang ada pada kita. Wallahu’alam bis ash-shawab.
Buletin Jum'at Edisi XVI 2011 Al-Imdad

Tidak ada komentar:
Posting Komentar