Bulletin Jum'at-"Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan". (QS. At-Taubah [9] : 82)
Muqaddimah
Alhamdulillah dan shalawat salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Junjungan kita Nabi Muhammad saw. Pada edisi yang lalu kami hidangkan judul sederahana "Insya Allah". Senang rasanya, Buletin ini bisa mengingatkan apalagi mencerahkan. Ketika pertanyaan Kaum Quraish, Beliau didiamkan Allah selama 15 hari dengan tidak diturunkan wahyu dan turun ayat menegur Beliau. Wajarlah, jika sedih, karena Beliau juga manusia. Demikian juga pada saat yang lain gembira dan tertawa. Itulah naluri dan fitrah yang sudah Allah titipkan kepada setiap insan. Untuk melengkapi urian itu, maka kalini kami hidangkan tema "Menangis dan Tertawa". Bagaimana pandangan Agama dan relevansinya dalam kehidupan kita. Semoga bermanfaat dan mencerahkan. Amin
Menangis dan Tertawa : Naluriah
Pernahkah kita diajari menangis dan tertawa? Mana lebih dahulu kita menangis daripada tertawa? Bahkan kita tidak tahu sejak kapan kita mulai menangis dan tertawa. Manusia yang dilahirkan menangis tanpa diajari, kemudian baru ia tertawa. Konon, Imam Ali kw, memberi petuah. "Ketika kau lahir orang lain disekitarmu menangis. Tapi, kelah kau harus tersenyum meninggalkan dunia ini, sementara orang disekitarmu menangis". Selagi seseorang masih waras, maka ia pasti akan menangis tatkala sedih dan tertawa (tersenyum) disaat gembira. Kita lebih mudah dan sering tertawa daripada menangis. Setiap hari entah berapa kali kita tertawa terbahak-bahak, meskipun yang dinilai sedekah adalah senyum diiringi tawa yang wajar. Sementara menangis, sekali sebulan atau sekali setahun pun tidak. Keduanya memiliki filosofi dan makna yang sama meskipun ekspresinya berbeda. Keduanya adalah karunia yang patut disyukuri dan menjadi obat yang menyehatkan. "Dan bahwasanya Dialah yang menajadikan orang tertawa dan menangis. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis". (QS. An-Najm [53] : 43, 60). Demikian Al-Qur'an mengingatkan.
Rasulullah saw. juga bersedih dan menangis ketika anaknya yang tumbuh remaja, Ibrahim meninggal dunia hingga airmata membasahi bajunya. Beliau juga sangat sedih dan menangis ketika Pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah wafat. Bahkan dalam sejarah Islam saat itu disebut dengan 'amul huzni (tahun duka cita). Belum lagi beliau sering menangis bukan karena sedih, tapi karena takut kepada Allah serta empati atas penderitaan sahabatnya. Di sisi lain, Beliau juga gembira baermain dengan cucunya Hasan Husein, bercanda dengan istri, sahabatnya dan anak kecil. Meski Beliau tertawa, namun tidak pernah terbahak-bahak, tapi tersenyum sampai terlihat giginya yang putih bersih. Beliau juga tertawa melihat sikap wanita-wanita yang bersembunyi di balik tabir ketika Umar ra. datang. Umar melihat Rasul tertawa lalu berkata : "Semoga Allah membuatmu tetap dalam keadaan senang dan gembira, walai Rasulullah!" (HR. Bukhari Muslim). Beliau adalah manusia seperti kita (QS. 18:110). Demikian juga Nabi Sulaiman as. Tersenyum dan tertawa ketika pemimpin semut berteriak kepada rakyatnya untuk menghindar dari pasukannya. "Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu" (QS. An-Naml [27] : 19).
Boleh tertawa di saat gembira begitu pula menangis dikala sedih. Gembira ketika lulus ujian, proyek berhasil, tercapai keinginan, hafal Al-Qur'an, bertemu orang yang dicintai dan sebagainya. Bersedih ketika gagal menjadi juara, kehilangan orang yang dicintai, tidak lulus seleksi bahkan gagal menjadi anggota dewan dan pejabat. Tapi tidak boleh berlebihan. Karena, jika gembira berlebihan akan melahirkan kesombongan (takkabur) dan lupa kepada Allah swt. Jika bersedih berlebihan akan mengakibatkan hilang arah dan gairah hidup serta putus asa. "Merana boleh merana serananya saja. Berduka boleh berduka sedukanya saja". Demikia syair indah Bang H. Rhoma Irama.
Allah swt. mengingatkan dengan santun : "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid [57] : 23). Ketika Nabi saw. terancam jiwanya saat bersembunyi di Gua Tsur, Abu Bakar bersedih. Lalu Nabi saw. menguatkan dan menghibur, "laa tahwa Innallaha ma'ana" (jangan bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita". (QS. At-Taubah [9] : 40).
Mengislah Sekarang!
Menangis itu ada 3 macam yaitu : pertama, menangis karena sedih. Kedua, menangis karena bahagia (syukur), dan ketiga, menangis karena dosa atau kesalahan. Menangis karena kehilangan sesuatu atau orang yang dicintai tidak perlu usaha dan pengkondisian. Air mata akan menetes dengan sendirinya. Demikian juga dengan menangis jenis yang kedua, masih mudah menguraikan air mata. Terharu dan bahagia disaat-saat yang dinantikan. Misalnya saat kelahiran anak, menikah, wisuda atau bertemu setelah lama berpisah. Namun, kalau menangis saat berdzikir dan karena takut kepada Allah atu dosa-dosa yang dilakukan itu luar biasa. Menangis karena dosa dan kemaksiatan individual dan sosial, yakni amanah (jabatan) yang tak dijalankan, anak dan istri/suami yang belum mendapat bimbingan ilahi. Harta dan kedudukan yang belum bisa menjadi jalan mendekatkan diri kepada Allah. Dosa karena kedurhakaan kepada orang tua dan pengkhianatan kepada rakyat dan umat yang telah memberi kepercayaan. Dan seterusnya.
Al-Qur'an menggambarkan : ".... apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (QS. Maryam [19] : 58). Demikian hendaknya, kita juga bersujud sambil menangis. Baik karena sedih, bahagia maupun karena dosa dan kesalahan. Jangan seperti orang-orang munafik dahulu di Madinah yang banyak tertawa aatau menertawakan Nabi saw dan orang-orang beriman yang pergi ke perang Tabuk. "Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan". (QS. At-Taubah [9] : 82).
Dalam tafsir Al-Misbah, Prof. Dr. Quraish Shihab menjelaskan ayat ini : "Maka karena itu, hendaklah mereka tertawa disebabkan oleh dugaan mereka telah dapat mengelabui Rasul dengan dalih-dalih yang mereka sampaikan, atau karena mereka diizinkan tidak ikut berperang, atau karena aneka kenikmatan yang dapt mereka raih di dunia ini, dan ketahuilah, betapapun lamanya kegembiraan dan tawa itu, ia pada hakekatnya hanya sedikit dan hendaknya pula mereka menangis banyak di akhirat ketika mereka dimasukkan ke api neraka yang sangat panas itu karena disana mereka akan disiksa dalam waktu yang sangat lama, sebagai pembalasan dari apa, yakni kedurhakaan yang selalu mereka kerjakan dalam kehidupan dunia ini secara terus menerus. Antara lain menertawakan orang-orang beriman, bergembira ketika melakukan kedurhakaan dan lain-lain". Kiranya kita tidak termasuk didalamnya.
Kang Jalaluddin Rakhmat dalam buku Renungan-Renungan Sufistik menulis tentang mata yang tidak menangis di Hari Kiamat, ketika wajah-wajah sedih dan gembira saat manusia dibangkitkan (QS. Al-Ghasyiah [88] : 1-16). Beliau menukil suatu Riwayat (tanpa Rawi), bahwa Rasul pernah bersabda : "Semua mata akan menangis pada hari kiamat kecuali tiga hal. Pertama, mata yang menangis karena takut kepada Allah. Kedua, mata yang dipalingkan dari apa-apa yang diharamkan Allah. Ketiga, mata yang tidak tidur akarena mempertahankan agama Allah". Kita termasuk kelompok yang mana? Kita harus berjuang meraihnya.
Khatimah
Prof. Dr. Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar mengutip hadist Rasullah saw. : "Kalau kamu ketahui apa yang aku ketahui, niscaya akan sedikit kamu tetawa dan akan banyak kamu menangis. Sebab kemunafikan akan terlihat nyata, amanat akan hilang sirna, rahmat akan tercabut. Orang yang dipercaya akan mendapat tuduhan, dan orang yang tidak dapat dipercaya akan memikul kepercayaan. Unta tua hitam akan terpaut di hadapanmu dan fitnah-fitnah akan datang laksana gelap gulita". (HR. Bukhari Muslim dari Abu Hurairah).
Jika pemimpin negeri ini bisa menangis karena belum mampu menjalankan amanah dan takut akan azab Allah kelak di Hari Kiamat, maka rakyat pun juga akan ikut menangis karena belum bisa membantu agar amanah dijalankan. Tapi, jika pemimpin, orang tua, guru, pejabat dan siapa pun yang diserahi amanah tidak lagi bisa menangis ketika amanah diabaikan, janji dipungkiri, kata yang didustakan, bahkan tertawa dan hidup dalam kemewahan di atas penderitaan orang lain, maka kelak di akhirat akan banyak menangis. Naudzubillah minzalik.
Akhirnya, jika kita belum bisa tertawa sedikit dan menangis banyak, paling tidak tertawa sedikit dan menangis sedikit. Jangan sampai seperti orang munafik, menangis sedikit tapi tertawa banyak. Menangis dan tertawalah dengan tulus, karena sehat dan obat dari segala macam penyakit. Bersyukurlah, jika masih bisa menangis dan tertawa pada saatnya. Amin, Allahu a'lam bish-shawab.
sumber : Buletin Bulanan Dinamika, Media Daklah Mencerdaskan Umat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar