Pages

Jumat, 18 November 2011

Hakekat Syukur

Bulletin Jum'at-"Ya Allah, tunjukkanlah di dunia ini siapa temanku di surga nanti", dimikian munajat Nabi Daud as. Allah Swt mengijabah munajat Nabi-Nya dengan menginformasikan bahwa teman Nabi Daud as di Surga nanti adalah seorang tukang kayu. Penasaran dengan kabar tersebut, Nabi Daud as ditemani Sulaeman as, putra tercintanya yang masih belia, mencari manusia yang diinformasikan akan menjadi temannya di surga.

Tak berselang lama mencari, mereka bertemu dengan seorang tukang kayu. Diikuti dan diperhatikannya bagaimana tukang kayu tersebut menebang, memotong dan menjual kayunya. Belum terlihat hal-hal yang istimewa. Sehingga Nabi Daud as memutuskan untuk bertemu dan menginap di rumah Tukang kayu tersebut.


Dengan senang hati, ia menyambut Nabi Daud dan Nabi Sulaeman kecil. Dia memperlakukan tamunya dengan santun. Uang hasil menjual kayu dia pergunakan untuk membeli gandum. Kemudian dia mengolah gandum itu menjadi tiga roti bakar untuk menjamu tamunya. Setelah mempersilahkan tamunya untuk menyantap hidangan tersebut, Tukang kayu mengangkat tangan sambil berdo'a dengan penuh khusyu'. "Ya Allah, yang berkuasa memberi kesehatan padaku sehingga kakiku dapat melangkah ke hutan adalah Engkau, yang memberi kekuatan agar tanganku mampu menebang kayu di hutan adalah Engkau, yang menggerakan hati pembeli sehingga membeli kayuku juga Engkau. Ya Allah, yang memberikan kemampuan agar aku memasak roti untuk nabi-Mu adalah Engkau dan yang membangkitkan nafsu makan kami untuk memakan rezeki-Mu juga Engkau."

Ini rahasia mengapa Allah Swt menjadikan orang ini sebagai sahabat bagi nabi-Nya. Begitu pandai dia bersyukur, dengan detail pengakuan yang tulus.

Hakekat Syukur

Orang yang bersyukur adalah manusia yang paling qonaah dan manusia yang paling kuful adalah yang paling rakus (tamak). Manusia yang rakus tidak sempat menikmati hasil kerjanya. Ia selalu berangan-angan menggapai yang belum tentu akan dia dapatkan. Sehingga ia lupa bersyukur atas apa yang ada pada dirinya.

Al-Qur'an menyebut kata syukur dengan berbagai bentuknya sebanyak 75 kali. Sama persis dengan kata bala' (bencana) yang juga disebut 75 kali. Seolah-olah Al-Qur'an ingin menegaskan bahwa jika manusia tidak bersyukur maka Allah SWT akan menurunkan bala' (bencana).

Allah Maha Mengasihi semua hamba-Nya. Ketika menjelaskan makna syukur, laazidannakum walain kafartum inna 'adzabi lasyadid. "Apabila kalian bersyukur maka Aku tambah nikmat-Ku, tetapi apabila kalian ingkar, sesungguhnya azab-Ku amat pedih". (QS. Ibrahim : 7)

Ketika menjelaskan kalimat syukur, Al-Qur'an menegaskan, "jika kalian bersyukur niscaya Aku tambah nikmat-Ku". Allah memberikan secara langsung balasan bagi orang-orang yang bersyukur (syakirin). Tetapi ketika menjelaskan kufur, Al-Qur'an tidak memakai kalimat wa lain kafartum la'adzibakum, jika kalian ingkar Akua akan adzab kalian, tatapi memakai kata inna 'adzabi lasyadid. Hal ini menunjukkan betapa Allah SWT masih mengharapkan hamba-Nya untuk bersyukur. Karena dengan bersyukur berarti mereka memperoleh manfaat untuk diri mereka. Betapa Allah SWT begitu menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya. Ia menunggu hamba yang meskipun ingkar untuk kembali kepada-Nya. "... dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk  (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS. An-Naml : 40)

Syukur adalah ibadah yang tidak pernah habis. Syukur selalu menuntut bersyukur atas kondisi syukur. Karena ketika kita mampu bersyukur juga merupakan nikmat yang harus disyukuri. Dan seterusnya, kondisi kita mampu bersyukur adalah nikmat Allah yang melazimkan kita bersyukur.

Hakekat syukur ialah pertama kita mengakui bahwa segala nikmat itu berasal dari Allah, kemudian kita mengucapkan al-hamdulillah dan mengiringi dengan praktek syukur seperti menggunakan segala nikamat sesuai dengan keinginan Sang Pemberi Nikmat. Dengan berbagai, shalat, dan berdoa menyerahkan diri kehadirat Allah SWT. Syukur juga berarti tidak menggunakan seluruh nikmat untuk bermaksiat kepada Allah SWT.

Puncak syukur adalah kalimat al-hamdulillahirobbil'alamin. Kalimat ini terdapat dalam ummul kitab. Setiap kali kita menunaikan shalat, kita diwajibkan membaca Al-Fatihah yang secara langsung pula kita diingatkan untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT dengan ungkapan tertinggi. Al-Hamdulillahi robbil 'alamin - "Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam", (QS. Al-Fatihah : 1). Inilah ungkapan, pengakuan, sekaligus pernyataan syukur tertinggi.

Suatu ketika Nabiyullah Musa AS bermunajat kepada Allah SWT, "Ya Allah berikanlah penjelasan kepada hamba bagaimana Nabi Adam bersyukur kepada-Mu. Dia diciptakan dengan tangan-Mu, para malaikat diperintahkan untuk bersujud kepadanya, dan Kau masukkan dia ke dalam surga-Mu" Kemudian Allah SWT menjawab, "Cukuplah dia bersyukur dengan mengakui bahwa segala nikmat tersebut berasal dari-Ku".

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang bersyukur. Wallahu'alam bi ash-shawab.

Sumber : Buletin Jum'at Al Imdad Edisi XXII 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...